Rabu, 03 November 2010
Bila Cinta Berbicara
Dia cuma berkata, “Carilah bunga merah dari rumah yang tidak mengenal “kesedihan”. Setelah kamu bertemu bunga itu, kita akan bersama-sama membuat ramuan ajaib untuk menghidupkan kembali puteramu.”Selesai mendengar itu, wanita tersebut segera berangkat mencari kemahuan sang guru.Dalam perjalanan, dia nampak bingung. Tak ada satu petunjuk pun tentang di mana dan bagaimana bentuk rumah itu. Hinggalah, dia tiba di depan rumah mewah.“Mungkin, penghuni rumah itu tak pernah mengenal kesedihan,”ucap wanita itu dalam hati.Setelah mengetuk pintu, dia berkata, “saya mencari rumah yang tidak pernah mengalami kesedihan. Inikah tempatnya ?”
Wajah sang wanita masih memperlihatkan raut bersedih. Dari dalam rumah, terlihat wajah yang tak kalah sedih.Pemilik rumah itu menjawab, “Kamu datang ke rumah yang salah.”Pemilik rumah itu bercerita tentang tragedi yang dialami keluarganya . Ia tak hanya kehilangan seorang anak, tapi juga suami dan kedua orangtuanya kerana kemalangan. Si wanita berasa amat kecewa.Namun, dia menjadi terharu dengan cerita tuan rumah. Ia berfikir, “Siapa yang boleh membantu orang yang nasibnya lebih malang dari saya ini?”Dia memutuskan untuk tinggal di sana dan menghiburkan pemilik rumah itu. Beberapa hari lamanya, dia bersama wanita pemilik rumah itu, saling bantu-membantu untuk menjalani hidup.Beberapa minggu berlalu, wanita itu pun berasa si tuan rumah sudah kelihatan lebih baik. Lalu, ia berangkat lagi mencari rumah berikutnya. Tetapi, ke mana pun dia pergi, selalu bertemu kesedihan orang lain. Akhirnya, dia berasa bertanggungjawab untuk menghiburkan semua orang yang dikunjunginya. Hingga akhirnya,diapunmelupakanmisinya.:Kita belajar makna cinta dari seorang ibu yang menyusui anaknya dalam dukungan. Kedua belah tangannya sibuk membetulkan selimut si bayi. Dalam dadanya tiada sesuatu selain ketulusan memberi atas nama cinta.Kita belajar makna cinta dari seorang ayah yang membawa pulang sekarung padi dan sejag air setelah seharian berpenat-lelah di sawah. Dalam dadanya, tiada sesuatu selain kegembiraan memberi atas nama cinta.
Kerana cinta bukan hanya sekadar pelukan hangat, belaian lembut, atau kata-kata penuh romantis. Kita belajar apa itu cinta dari apa pun yang ada di muka bumi. Dari cahaya matahari, dari sepasang merpati, dari sujud dan tengadah doa. Dari apapun!
Pada semua kelahiran yang bersambut dengan cinta, hingga kematian dalam cinta, kita dalam hidup ini, tiada lain selain mewujudkan cinta.
Kerana itu, tiada yang boleh kita lakukan selain atas nama cinta kita yang teragung: cinta buat Yang Maha Agung, Allah SWT.Apapun keputusan-NYA buat kita, Allah yang berbicara, yang menentukan untung-nasib kita, kerana setiap sesuatu yang menyedihkan itu ada hikmah-Nya.
Rabu, 03 Juni 2009
Surat Terakhir Untuk Mantan Pacarku
Perkataan Bijak Beberapa Wanita Mulia
Kamis, 30 April 2009
Doa Keluarga Sakinah
Semoga Allah mengaruniakan kita pendamping terbaik pilihan-Nya, sehingga perjuangan kita dalam meniti kehidupan berumah tangga senantiasa terasa indah dan menyejukkan berkat pertolongan dan karunia Allah tersebut. Berumahtangga bukanlah suatu hal yang mudah seperti halnya membalikkan kedua telapak tangan. Jika tidak hati-hati dalam menitinya, baik dalam perencanaan maupun ketika mengarunginya, ia akan menjadi bagian dari sebuah penderitaan yang seolah tiada bertepi bagi siapa pun yang menjalaninya.
Sejak awal, Allah SWT memperingatkan kepada setiap orang beriman agar hati-hati dalam hal tersebut, sebagaimana firman-Nya, "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S. At-Taghaabun [64]:14)
Ayat di atas menjelaskan, bahwa bisa jadi pasangan yang telah kita pilih untuk mendampingi hidup kita dan anak-anak yang dilahirkannya menjadi musuh bagi diri kita. Seorang suami yang seharusnya menjadi seorang pemimpin di keluarga malah menjadi koruptor karena bujukan istrinya yang terus menggerutu karena diperbudak segala macam keinginan. Ayah dan ibu terhancurkan kehormatan dan harga diri keluarganya karena perilaku dan akhlak buruk yang diperlihatkan anak-anaknya.
Untuk itu, hal pertama yang harus kita lakukan adalah memohon kepada Allah dengan segala kelemahan diri agar Ia menolong dan mengaruniakan kepada kita pendamping terbaik dan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Maka doa yang diperintahkan Allah dalam Alquran untuk hal tersebut adalah, "Wahai Tuhan kami! Karuniakanlah kepada kami istri dan keturunan yang menjadi cahaya mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang memelihara dirinya (dari kejahatan)." (Q.S. Al-Furqaan [25]:74)
Ciri-ciri dari yang dimaksud oleh doa ini adalah istri yang menyejukkan ketika dipandang, dapat menjadi teladan bagi siapa pun. Ia juga tidak akan pernah memperlihatkan wajah yang muram durja, berbicara ketus dan rona wajah yang menyeramkan. Akhlaknya akan terlihat jauh lebih indah dibanding kecantikan wajah dan tubuhnya.
Akhlaknya akan tercermin dalam perilakunya sehari-hari, baik terhadap suami maupun orang lain di luar keluarganya. Dia senantiasa menghormati sang suami, meski suaminya berumur sama dengannya. Kata-kata yang keluar dari mulutnya terasa menyejukkan, bersih, dan penuh kearifan sehingga tidak pernah ada yang terlukai.
Oleh karena itu, meski ia terus beranjak tua dan berubah karena perjuangannya dalam melahirkan dan membesarkan anak-anak, namun wajahnya tetap terlihat cerah dan bersinar. Hal itu tiada lain karena cerminan dari suasana hati yang senantiasa bersih dan bening. Di samping itu, ia juga akan senantiasa bersyukur, menghadapi setiap kejadian dengan sabar dan yakin akan pelajaran dari Allah. Walahu a?lam.
Berani Menikah
|
|
Belajar Dari Kedermawanan Abdurrahman bin Auf
Belajar Dari Kedermawanan Abdurrahman bin Auf
Abdurrahman bin Auf masuk Islam sebelum Rasulullah SAW melakukan pembinaan di rumah Arqam bin Abil Arqam, kira−kira dua hari setelah Abu Bakar masuk Islam. Ketika hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’ Al−Anshari, salah seorang kaya yang pemurah di Madinah. Abdurrahman pernah ditawari Sa’ad untuk memilih salah satu dari dua kebunnya yang luas. Tapi, Abdurrahman menolaknya. Ia hanya minta kepada Sa’ad ditunjuki lokasi pasar di Madinah.
Sejak itu, Abdurahman bin Auf berprofesi sebagai pedagang dan memperoleh keuntungan yang cukup besar. Omset dagangannya pun makin besar, sehingga ia dikenal sebagai pedagang yang sukses.
Tapi, kesuksesan itu tak membuatnya lupa diri. Ia tak pernah absen dalam setiap peperangan yang dipimpin Rasulullah. Suatu hari, Rasulullah SAW berpidato membangkitakn semangat jihad dan pengorbanan kaum Muslimin. Beliau berkata, “Bersedekahlah kalian, karena saya akanmengirim pasukan ke
Mendengar ucapan itu, Abdurrahman bin Auf bergegas pulang dan segera kembali ke hadapan Rasulullah. “Ya, Rasulullah, saya mempunyai uang empat ribu. Dua ribu saya pinjamkan kepada Allah, dan sisanya aya tinggalkan untuk keluarga saya,” ucap Abdurrahman. Lalu Rasulullah mendoakannya agar diberi keberkahan oleh Allah SWT.
Ketika Rasulullah SAW membutuhkan banyak dana untuk menghadapi tentara Rum dalam perang Tabuk, Abdurrahman bin Auf menjadi salah satu pelopor dalam menyumbangkan dana. Ia menyerahkan dua ratus uqiyah emas. Melihat hal itu, Umar bin Khathab berbisik kepada Rasulullah SAW, “Agaknya Abdurrahman berdosa, dia tidak meninggalkan uang belanja sedikit pun untuk keluarganya.”
Maka, Rasulullah pun bertanya kepada Abdurrahman, “Adakah engkau tinggalkan uang belanja untuk keluargamu?” Abdurrahman menjawab, “
Sejak itu, rizki yang dijanjikan Allah terus mengalir bagaikan aliran sungai yang deras. Abdurrahman bin Auf kini telah menjadi orang terkaya di Madinah.
Suatu hari, iring−iringan kafilah dagang Abdurrahman bin Auf yang terdiri dari 700 ekor unta yang dimuati bahan pangan, sandang, dan barang−barang kebutuhan penduduk tiba di Madinah. Terdengar suara gemuruh dan hiruk−pikuk, sehingga Aisyah bertanya kepada seseorang, “Suara apakah itu?”
Orang itu menjawab, “Iring−iringan kafilah dagang Abdurrahman.” Aisyah berkata, “Semoga Allah melimpahkan berkah−Nya kepada Abdurrahman di dunia dan akhirat. Saya mendengar Rasulullah bersabda bahwa Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak.”
Orang itu langsung menemui Abdurrahman bin Auf dan menceritakan apa yang didengarnya dari Aisyah. Mendengar hal itu, ia pun bergegas menemui Aisyah. “Wahai Ummul Mukminin, apakah ibu mendengar sendiri ucapan itu dari Rasulullah?” “Ya,” jawab Aisyah.
“Seandainya aku sanggup, aku ingin memasuki surga dengan berjalan. Sudilah ibu menyaksikan, kafilah ini dengan seluruh kendaraan dan muatannya kuserahkan untuk jihad fi sabilillah.”
Sejak mendengar bahwa dirinya dijamin masuk surga, semangat berinfak dan bersedekahnya makin meningkat. Tak kurang dari 40.000 dirham perak, 40.000 dirham emas, 500 ekor kuda perang,dan 1.500 ekor unta ia sumbangan untuk peruangan menegakkan panji−panji Islam di muka bumi. Mendengar hal itu, Aisyah mendoakan, “Semoga Allah memberinya minum dengan air dari telaga Salsabil (nama sebuah telaga di surga).”
Menjelang akhir hayatnya, Abdurrahman pernah disuguhi makanan oleh seseorang, padahal ia sedang berpuasa. Sambil melihat makanan itu, ia berkata, “Mush’ab bin Umair syahid di
Dan jika kakinya ditutup, kepalanya terbuka. Kemudian Allah membentangkan dunia ini bagi kita seluas−luasnya. Sungguh, saya amat takut kalau−kalau pahala untuk kita disegerakan Allah di dunia ini.” Setelah itu, ia menangis tersedu−sedu.
Abdurrahman bin Auf wafat dengan membawa amalnya yang banyak. Saat pemakamannya, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata, “Anda telah mendapat kasih sayang Allah, dan anda telah berhasil menundukan kepalsuan dunia. Semoga Allah senantiasa merahmati anda. Amin.”
UPAYA MUSUH ISLAM TERHADAP KELUARGA MUSLIM
UPAYA MUSUH ISLAM TERHADAP KELUARGA MUSLIM
"Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahalmereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan
mereka tidak menyadari."
[Ali 'Imran: 69]
Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Alhamdu lillahi nasta'iinuhu wa nastaghfiruhu,
wa na'udzu billahi min syuruuri anfusinaa
Asyhaadu allaa ilaaha illallahu,
wa asyhaadu anna muhammdaan 'abduhu wa rasuluh
Allahumma shalli 'alaa Muhammad wa 'alaa aalihii wa ashhabihi aj'main
Ammaa ba'du, uushiikum wa nafsii bitaquwallahi faqad faazalmuttaquun
Banyak komentar yang dilontarkan oleh penulis-penulis dan cendekiawan Barat tentang Islam, maka jumlah mereka yang mengomentari secara obyektif bisa dihitung dengan jari. Hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan keagungan Islam yang sempat membuat mereka terpana keheranan.
Namun fanatisme yang melingkupi diri mereka, ditambah lagi dengan ketidaktahuan mereka aterhadap ajaran-ajaran Islam yang benar, kedengkian karena populasi kelompok yang terus diwariskan kepada mereka, arus politik kolonialisme, akhirnya menjadikan Islam sebagai musuh yang harus mereka hadapi.
Apalagi yang berkenan dengan pola-pola sosial dan yang paling utama mereka akan menyerang keluarga muslim.Kedengkian seperti itu tergambar dalam diri sala seorang pemimpin di Perancis. Setelah mengadakan kunjungan ke Mesir.Ia mengeritik tatanan keluarga muslim secara pedas, dan juga
mengeritik gambaran wanita muslimah yang jauh dari gambaran semestinya. Ia berkata, "Manusia tidak akan mendapatkan cara yang paling keji untuk menghukum orang yang bersalah, seperti
layaknya wanita-wanita Mesir."Seorang penulis Perancis Athena L tak kalah giatnya mencari terobosan-terobosan baru untuk menghadapi Islam. Untuk itu ia berkata, "MENGHADAPI ISLAM DENGAN MENGGUNAKAN KEKUATAN JUSTRU MEMBUAT AGAMA ITU SEMAKIN TERSEBAR KE MANA-MANA. CARA PELING EFEKTIF UNTUK MENGHANCURKAN ISLAM DAN MENCABUT AKAR-AKARNYA IALAH: MENDIDIK ANAK-ANAK MEREKA DI SEKOLAHAN-SEKOLAHAN KRISTEN, MENANAMKAN BENIH-BENIH KERAGUAN DI DALAM JIWA MEREKA SEJAK DINI, SEHINGGA TANPA TERASA SEBENARNYA MEREKA DIGIRING KEPADA KEYAKINAN YANG RUSAK. CARA SEPERTI INI JAUH LEBIH EFEKTIF DARIPADA MENJADIKAN MEREKA MEMELUK
AGAMA KRISTEN."Ia juga menambahi lagi, "MENDIDIK WANITA-WANITA ISLAM DI SEKOLAHAN UNTUK PARA BIARAWATI MERUPAKAN SATU-SATUNYA PENDIDIKAN YANG PALING MENGENA UNTUK MENGHANCURKAN ISLAM LEWAT TANGAN PEMELUKNYA SENDIRI. MEREKA YANG BERADA DALAM SUATU KELUARGA MUSLIM DAPAT MENCIPTAKAN PERMUSUHAN TERSELUBUNG, YANG TIDAK BISA DITUNDUKKAN BEGITU SAJA OLEH SUAMINYA. SEBAB WANITA ISLAM YANG TELAH DIJEJALI DENGAN PENDIDIKAN KRISTEN, MUDAH MEMPENGARUHI PERASAAN DAN AKUDAH SUAMINYA, SEHINGGA IA BISA MENJAUHKANNYA DARI
ISLAM DAN DAPAT MENDIDIK ANAK-ANAKNYA BUKAN MENURUT AGAMA KAKEK NENEKNYA. SEBAGAIMANA
YANG TERJADI PADA ZAMAN SEKARANG INI, SEORANG IBU YANG BERTANGGUNG JAWAB MENDIDIK ANAKNYA, MAKA DIALAH SARANA YANG PALING TEPAT UNTUK MENGHANCURKAN ISLAM."
Itulah yang telah diserukan Athena untuk menghancurkan Islam dari dalam. Cara serupa juga ditempuh oleh Snouck Hourgrounye yang berkata, "UNTUK MENGHANCURKAN ISLAM,TIDAK ADA GUNANYA MEMERANGI ORANG-ORANG ISLAM ATAU MELINDAS MEREKA DENGAN MENGERAHKAN KEKUATAN SENJATA. TAPI HAL ITU CUKUP DENGAN MENGADU DOMBA ANTARA KELOMPOK MEREKA DENGAN KELOMPOK YANGLAIN DARI DALAM, YAITU DENGAN MENANAMKAN PERBEDAAN PENDAPAT DAN MADZHAB SERTA MENANAMKAN KETIDAKPERCAYAAN KEPADA PEMIMPINNYA. DI SATU PIHAK ANAK-ANAK MEREKA HARUS DIJEJALI DENGAN PAHAM MARXISME."Itulah sebagian usaha dari musuh-musuh Islam –Kristen dan Yahudi-- dalam meruntuhkan bangunan Islam dengan cara merusak tatanan keluarga muslim dari dalam. Keberhasilan
mereka dalam menlancarkan misi-misinya jelas di pelupuk mata kita yaitu dengan mengeksploitasi wanita-wanita muslim dalam berbagai sarana hiburan dan lain sebagainya. Wanita-wanita kita, di jaman
sekarang, lebih cenderung atau leibh suka menjadi wanita-wanita pekerja/buruh di luar rumah daripada menjalankan tugas untuk mengurus rumah tangganya, mendidik anak-anaknya supaya bisa
menjadi generasi yang handal kelak dikemudian hari atau melayani suami dan lain sebagainya. Lebih-lebih sekarang di negeri kita ini,dengan bantuan sarana telekomunikasi TV, musuh-musuh kita lebih gencar dan efektif lagi dalam merusak/mengikis akhlak masyarakat
Akhirnya ...
"Hai orang-orang yang beriman,peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras,yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepda mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."[At Tahrim: 6]
"Kebenaran itu adalah dari Rabb-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu."
[Al Baqarah: 147]
"Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya(iman). Dan orang-orang yang kafir pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan(kekafiran). Mereka adalah penghuni neraka; mereka kekal di
dalamnya."[Al Baqarah: 257]
Ya Allah, berilah kekuatan kepada kami, hamba-hamba-Mu,dalam menjalan perintah-perintah-Mu, menegakkan kalimat-Mu dengan berpegang pada firman-Mu al-Qur'an dan sunnah rasul-Mu
al-hadits.Yang benar datangnya hanya dari-Mu semata ya Rabbi, dan kesalahan datangnya dari diri hamba yang bodoh dan hamba memohon ampun kepada-Mu, ya Allah...Alhamdulillahi rabbil 'alamin...
Wasslamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
UNTUK PARA PEMUDA MUSLIM
UNTUK
A. DUA POTRET YANG BERBEDA
Seorang mahasiswi, di Palestina, bulan depan akan menikah dengan seorang pemuda, persiapan telah dilakukan, namun belum sempat masa bahagia itu terlaksana, ia—mahasiswi tsb—dikabarkan syahid, ternyata dia adalah salah seorang anggota organisasi terkenal di palestina yang mencetak anggotanya menjadi seorang pelaku bom syahid, dia telah memilih kemuliaan di sisi Allah dengan mengorbankan nyawa demi membebaskan negerinya.Seorang mahasiswi, di Indonesia, bulan depan akan wisuda, gelar kesarjanan sudah nampak di depan mata, belum sempat masa bahagia terlaksana, ia dikabarkan tewas bunuh diri karena sang pacar tak mau bertanggungjawab atas kehamilannya.Menjadi pengamen di bus sebenarnya bukanlah cita-cita Udin, tapi apa daya, ia memilih hidup di jalanan karena ia melihat kehidupan disana, sementara bangku kuliah yang kemarin sempat di dudukinya sudah lama ditinggalkannya, bukan apa-apa, masalah biaya adalah masalah yang sampai sekarang belum sempat terpecahkannya.Lain halnya dengan Aldin, ke kampus selalu bawa mobil, tiap hari main ke mall, malem ke diskotik, sempat tertangkap basah ketika nyabu bareng teman-teman kampusnya. Sementara orang tuanya sudah entah berapa kali mengingatkannya,..
B. PEMUDA ?? SIAPAKAH DIA ??
Hasan AlBanna pernah berkata: “Sesungguhnya sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Keempat rukun ini—iman, ikhlas, semangat, dan amal) merupakan karakter yang melekat pada diri PEMUDA, karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertaqwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang kuat. Itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda.”
Musthofa Muhammad Thahan menjelaskan tentang kekuatan pemuda:
1. Sektor pembebasan dan kemerdekaan
Pemuda adalah kemampuan, tekad, keberanian, dan kesabaran mengahdapi tantangan. dengannya ummat menghalau musuh dan mengangkat bendera kejayaannya.
2. Sektor pemikiran dan Pembentukannya
Pemuda adalah unsur kokoh yang mampu belajar keras, menguasai dan menghasilkan pemikiran serta pembaruan. Ibarat ranting yang amsih segar, kelenturannya cukup untuk terbentuknya pemikiran sekaligus mentransformasikan pemikiran tersebut kepada orang lain.
3. Sektor Iman dan Amal
Iman yang diam dan kehilangan dinamika tidak ada harganya , sedangkan keimanan pemuda selalu memunculkan energi tersembunyi yang besar dalam bentuk gerakan membina umat.
4. Sektor Perubahan
Pemuda adalah pelopor dan sarana perubahan, Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah kondisi jiwa mereka. Sedangkan pemuda memiliki kekuatan jiwa yang besar, maka perubahan yang dilakukannya pun besar.
Pemuda adalah individu yang merupakan bagian dari masyarakat, dan pemuda adalah salah satu individu pilihan yang paling banyak kontribusinya di masyarakat, paling dinamis dan paling berpengetahuan. Masyarakat dapat bangkit bersama gerakan pemuda dan masyarakat akan diam dan tertinggal jika pemuda melalaikan kewajiban dan perannya.Selain memiliki kekuatan diatas, pemuda juga memiliki nilai strategis lain yaitu :
1.Memberi tanpa berpihak/obyektif/independen
2.Kelompok yang selalu bekerja
3.Wanita dan pria
4.Syuro tanpa sikap diktator
5.Bersifat internasional/mondial
C. TENTANG “OSTEOPORESIS”
Kalau memang pemuda memiliki kekuatan yang luar biasa, pertanyaannya adalah kenapa sampai saat ini umat Islam tak kunjung bangkit dari keterpurukannya??. Bila seluruh umat Islam diibaratkan sebagai satu bentuk yang kokoh, maka pemuda adalah tulang punggungnya, pemuda adalah tulang punggung kebangkitan Islam, apa yang terjadi pada sebuah tubuh bila tulang punggungnya retak, keropos, atau bahkan patah ??Ada diantara pemuda yang tumbuh dalam suasana bangsa yang sulit dan bergejolak, dimana kesadaran akan eksistensi diri selaku muslim dan keinginan untuk membangkitkan umat ini telah begitu kuat tertanam dalam dirinya.Ada juga diantara para pemuda yang tumbuh dalam suasana bangsa yang bejat dan rusak, dimana para pemimpinnya tak mampu mensejahterakan rakyatnya, ketimpangan sosial begitu menganga, pengaruh barat telah merasuk hebat, gaya hidup yang hedonis dsb. Sehingga pemuda yang tumbuh dalam suasana ini aktivitasnya lebih banyak tertuju pada dirinya sendiri daripada pada umatnya, dia pun kemudian cenderung hura-hura, dan main-main karena untuk menenangkan hatinya, meski sementara. Saya menamakan fenomena ini sebagai OSTEOPOROSIS (pengeroposan tulang), dimana terjadi proses penghancuran kekuatan pemuda sebagai tulang punggung sebuah generasi.
D. BERFIKIR GLOBAL, BERTINDAK LOKAL
Ketika kesadaran, secara perlahan mulai menyelimuti hati kita, maka satu hal yang mesti kita lakukan adalah : BERGERAK !!! karena sesungguhnya perubahan tidak akan pernah terjadi jika hanya DIAM.
Perhatikan kondisi di sekitar kita, layakkah itu kita sebut sebagai situasi yang Islami?? Benarkah pendidikan yang kita jalani adalah pendidikan yang sesuai dengan spirit Islam? Apakah pergaulan di masyarakat mencerminkan semangat persaudaraan Islam? Kalau tidak, segera susun kekuatan, galang persatuan dan gunakan sarana-sarana yang ada untuk MEMPERBAIKINYA
Sabtu, 21 Februari 2009
KUNCI HIDUP BAHAGIA
*Berbahagialah dengan kehidupan, sebelum mati
dan petiklah bunga itu sebelum datang angin merontokkannya
1. Kunci kemuliaan adalah kepada Allah dan Rosul-Nya
2. Kunci surga adalah Tauhid
3. Kunci rezeki adalah Berusaha dengan maxsimal dan selalu berdo'a
4. Kunci kehidupan hati adalah Meninggalkan perbuatan dosa
5. Kunci bertambahnya nikmat adalah Bersyukur
6. Kunci ilmu pengetahuan adalah Bertanya
7. Kunci keberhasilan adalah Sabar
8. Kunci kebaikan adalah Kejujuran
9. Kunci kebahagiaan adalah Takwa
10.Kunci agar permintaan dikabulkan adalah Berdo'a
Kiat Mengajak Muslimah Berjilbab
Bismillahirrahmanirrahim.........
“Bagaimana cara menyikapi para muslimah yang belum sempurna menutup auratnya? ”
1. Bijak Menyikapi Kekurangan Orang Lain
Bagaimana mengajak saudara, teman, dan para muslimah di sekitar kita berjilbab? Atau setidaknya, bagaimana cara menyikapi para muslimah yang belum sempurna menutup auratnya?
Sebelum menjawab semua itu, kita mencoba mengupayakan bagaimana kiat untuk bijak menyikapi kekurangan orang lain.
Pertama, Bersyukur kepada Allah SWT, jika kita tak memiliki kekurangan yang serupa dengan orang yang kita saksikan kekurangannya. Sesungguhnya, kita terhindar dari kekurangan itu pun pada hakekatnya adalah karunia-Nya.
Kedua, Berlindung kepada Allah SWT dari memiliki kekurangan yang serupa. Jika bukan karena perlindungan Allah, belum tentu kita terhindar dari keadaan semacam itu.
Ketiga, Doakan orang yang memiliki kekurangan agar berubah menjadi lebih baik. Doakan pula orang yang berbuat salah agar dibimbing Allah bertaubat dan memperbaiki diri.
Keempat, Sampaikan dakwah kepadanya. Informasikan manfaat setiap amal yang kita perbuat. Informasikan kerugian dan dampak buruk yang dialami oleh diri kita sendiri, juga oleh orang di sekitar kita akibat dari apa yang kita perbuat. Bisa jadi seseorang berbuat salah, karena belum mengetahui hal itu salah atau belum tahu akibat buruk perbuatannya. Kiat diatas dapat digunakan bila melihat para muslimah yang cara berpakaiannya atau cara berhijabnya masih belum sempurna, misalnya ;
Pertama, jika kita telah sempurna menutup aurat, maka bersyukurlah kepada Allah. Jangan sampai kita menjadi ujub (bangga diri) dan sombong (merasa diri lebih baik atau lebih shalehah). Sesungguhnya, kita bisa menutup aurat dengan baik karena rahmat dan karunia Allah. Jika Allah tidak membimbing, belum tentu kita berbuat lebih baik.
Kedua, Senantiasa berlindung kepada Allah dari cara berpakaian yang tak disukai-Nya. Ini kisah nyata, saya pernah melihat seorang muslimah yang pakaiannya sangat terjaga, kemudia ia memperbincangkan sekelompok muslimah yang pakaiannya belum sempurna. Sayangnya, tak berapa lama, ia pun berpakain seperti para muslimah yang ia perbincangkan. Artinya, bila tidak berlindung kepada Allah, bisa saja suatu saat kita enggan menyempurnakan penutup aurat kita. Naudzubillahi mindzalik.
Ketiga, Doakan saudara kita yang belum sempurna cara menutup auratnya agar segera menyempurnakannya. Jangan sampai kita menyebarkan aib dan ghibah, karena semua itu tidak membuat menjadi bertaubat atau menjadi lebih baik. Bahkan perbuatan itu hanya menambah dosa bagi kita.
Keempat, Informasikan terhadap para muslimah yang belum menutup aurat dengan sempurna tentang manfaat memakai jilbab dengan benar. Dalam menginformasikan, kita bisa menggunakan kiat-kiat yang pernah disampaikan Aa Gym, seperti kita untuk sebuah perubahan dengan 3 M nya (Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang terkecil, Mulai saat ini juga), serta kiat berdakwah dengan menggunakan formula 3 A (Aku bukan ancaman bagimu, Aku menyenangkan bagimu, dan Aku bermanfaat bagimu).
“Jangan tergesa-gesa menyalahkan mereka, ini justru hutang kita kepada mereka. Bisa jadi, hal ini justru kesalahan kita akibat kelalaian kita dalam beramar ma’ruf”
2. Menyampaikan Ilmu
Orang-orang yang lahir di lingkungan baik, tentu tata nilainya tidak sama dengan orang-orang yang lahir di lingkungan yang kurang baik. Begitu pula para muslimah lahir di lingkungan kurang kondusif, mungkin tak pernah merasa malu dan bersalah jika auratnya tak tertutup sempurna, karena sejak kecil tidak terbiasa melihat para wanita di lingkungan keluarganya menutup aurat dengan baik.
Berbeda dengan wanita yang lahir di lingkungan moralis, misalnya di lingkungan para pendidik, pesantren, atau di lingkungan orang-orang saleh , maka ia akan merasa malu, terhina dan merasa bersalah jika auratnya tak terjaga.
Upaya amar ma’ruf nahyi munkar harus dimulai dengan penyampaian ilmu. Paksaan untuk melakukan kebaikan boleh dilakukan jika ilmu telah disampaikan dengan upaya maksimal.
Ambil contoh, suatu saat pernah ada seorang mualaf yang ingin masuk islam, tapi tidak mau melaksanakan shalat, kemudian Rasul SAW membiarkannya masuk Islam dan tidak memaksanya melaksanakan shalat. Setelah ia memahaminya, seiring bertambahnya ilmu dan pengalaman yang dilaluinya, akhirnya ia mau mengerjakan shalat.
Jika tidak, maka kita bagai memaksa orang yang tidak bisa berenang untuk mencapai tempat tujuan dengan berenang. Bagaimana mungkin ia bisa sampai di tujuan, bila tidak bisa berenang. Langkah awal yang harus dilakukan adalah mengajarinya berenang agar tahu bagaimana cara mengambang, bergerak, dan berjalan di permukaan air, kemudian ia harus gigih berlatih secara sistematis dan berkesinambungan.
Jika ia sudah pandai berenang, tapi tidak mau menjalankan tugas dan kewajibannya untuk mencapai tujuan itu, barulah dia boleh dipaksa.Kalau kita masih menyaksikan banyak para muslimah yang belum sempurna menutup auratnya, pertanyaannya adalah sejauh mana kita telah mensosialisasikan dan membuat mereka paham tentang bagaimana cara berpakaian yang paling disukai Allah.
Oleh karena itu, jangan tergesa-gesa menyalahkan mereka, ini justru hutang kita kepada mereka. Bisa jadi, hal ini justru kesalahan kita akibat kelalaian kita dalam beramar ma’ruf, hingga hak mereka untuk mendapatkan ilmu tertahan oleh kemalasan dan keenganan kita berdakwah.
Selain itu, setiap orang juga harus melakukan instropeksi diri, ”Seberapa banyak ilmu yang sudah saya dapatkan, hingga sejauh mana saya harus mengamalkan ilmu yang telah saya dapatkan itu?” atau, “Apakah karena ilmu saya memang masih sangat sedikit, hingga belum mau menggunakan penutup aurat yang sempurna?” Jika demikian, maka carilah ilmu sebanyak-banyaknya untuk mengetahui dan memahami tentang bagaimana cara berpakaian yang paling disukai Allah.
Bagaimana seharusnya para muslimah menutup auratnya? Setidaknya sebagai berikut. Pertama, tertutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan (untuk menutupi permukaan yang termasuk aurat). Kedua, tidak transparan (untuk menghilangkan penampakannya). Ketiga, tebal, artinya tidak tipis (untuk menghilangkan bentuk aurat). Keempat, warna tidak terlalu mencolok atau terlalu banyak hiasan (agar tidak terlalu menarik perhatian lelaki yang bukan mahram). Kelima, hindari wewangian yang terlalu semerbak.
Semoga Allah Yang Mahaagung mengaruniakan rasa syukur pada diri kita dan melindungi kita dari berpakaian yang tak disukai-Nya.
“Menyampaikan ilmu atau menganjurkan kebaikan kepada orang lain itu ibarat mengepel lantai sebuah ruangan. ”
3. Awali dari diri
Dalam sebuah diskusi, seorang peserta yang belum berjilbab mengungkapkan isi hatinya sebagai berikut. Ia memiliki seorang teman yang sudah berjilbab dan sering mengajaknya mengenakan jilbab. Tapi, muslimah yang sudah berjilbab ini akhlaknya kurang baik, dia masih kurang menjaga hijab dengan lawan jenisnya, bahkan dia masih suka berpacaran dan seringkali menunjukkan sikap yang kurang baik.
Akhirnya, ia memilih untuk tidak berjilbab asalkan bisa menjaga dirinya, dari pada berjilbab tapi akhlaknya masih buruk. Bahkan, seringkali dia antipati melihat wanita berjilbab yang belum dikenalnya.
Artinya, setiap kali kita akan berdakwah, bertanyalah pada diri, “Apa yang akan saya sampaikan sudah sesuai atau belum dengan apa yang saya lakukan?” atau setidaknya, “Apakah saya sudah berupaya secara maksimal untuk mengamalkan apa yang akan saya sampaikan?” atau, “Apakah perbuatan dan akhlak saya sudah mendukung apa yang akan saya sampaikan?”
Menyampaikan ilmu atau menganjurkan kebaikan kepada orang lain itu ibarat mengepel lantai sebuah ruangan. Diri kita itu ibarat lap pel, sedangkan yang orang lain itu ibarat lantai. Lap pel harus bersih, jika tidak, maka ruangan itu akan bertambah kotor. Bayangkan, bila kita mengepel lantai kamar kita dengan lap pel bekas mencuci kotoran. Hasilnya, bukan membersihkan kamar, tapi malah mengotorinya
Begitupula halnya dengan kasus diatas. Karena muslimah berjilbab yang mengajaknya itu belum sanggup memberikan contoh yang nyata buat temannya, maka akhirnya temannya itu bukannya segera ingin berjilbab, tapi malah mendapatkan citra yang tidak tepat tentang wanita berjilbab. Akhirnya, dakwahnya bukannya membuat temannya menjadi berubah menjadi lebih baik, tetapi malah membuatnya makin jauh dari pemahamannya tentang islam, bahkan mungkin makin jauh dari Allah. Karenanya, awalilah dari diri sendiri.Sering juga timbul pertanyaan, “Mana yang lebih baik, wanita yang berjilbab tapi akhlaknya buruk atau wanita yang belum berjilbab tapi akhlaknya lebih terjaga”.Kita jadi teringat kisah Buya Hamka ketika beliau ditanya seseorang, “Buya, saya memiliki tetangga, yang satu seorang insinyur yang tidak suka shalat tetapi akhlaknya baik. Yang satunya lagi seorang haji yang suka shalat, tetapi akhlaknya buruk. Mana yang lebih baik diantara mereka?”
Beliau menjawab, “Insinyur itu, belum suka shalat saja akhlaknya sudah baik, apalagi kalau beliau rajin shalat. Sedangkan Pak Haji itu, syukur beliau suka shalat. Kalau tidak suka shalat, mungkin akhlak beliau lebih buruk dari itu.”
Kisah ini bisa kita analogikan untuk pertanyaan diatas. Akhwat yang belum berjilab itu, belum berjilbab saja akhlaknya sudah baik, apalagi kalau dia sudah bejilbab. Akhwat yang sudah berjilbab itu, syukur dia sudah berjilbab. Jika tidak, sudah akhlaknya kurang baik, tidak berjilbab juga.
Konon, disekitar Masjidil haram ada para wanita amoral yang bercadar. Tentu, tidak logis sama sekali jika kita langsung antipati melihat wanita bercadar. Kalau kita bandingkan, jumlah wanita shalehah yang berjilbab jauh lebih banyak dibandingkan wanita shlehah yang belum berjilbab.
Pakaian memang bukan satu-satunya alat ukur untuk menentukan kemuliaan akhlak seseorang. Muslimah yang pakaiannya sempurna belum tentu akhlaknya baik, tetapi muslimah yang berakhlaq baik pasti akan makin sempurna cara menutup auratnya. Makin sempurna cara akhwat menutup aurat, makin tinggi peluang akhwat berakhlak baik. Sebaliknya, makin tidak sempurna cara akhwat menutup auratnya, makin tinggi peluang akhwat berakhlak buruk.
Jadi, kalau ada akhwat yang sudah berjilbab tetapi akhlaknya kurang baik, maka solusinya adalah ia harus memperbaiki akhlaknya, bukan berarti ia harus melepaskan atau mengurangi kesempurnaannya berhijab. Sebaliknya, bila ada akhwat akhlaknya baik tetapi belum berjilbab, maka ia tetap harus menyempurnakan hijabnya, karena meyempurnakan hijab adalah kewajiban setiap muslimah.
Jadi, kiat untuk mengajak para muslimah berjilbab setidaknya adalah, pertama, bijjak menyikapi kekurangan mereka. Kedua, sampaikan ilmu kepada mereka. Ketiga, awali dari diri.
Semoga Allah SWT mengaruniakan kemampuan kepada kita untuk menutup aurat dengan sempurna, ikhlas karena Allah semata. Amin Yaa Rabbal aalamiiin.
Wallahu‘alam bishawab.